INTEGRASI PELAYANAN KESEHATAN DENGAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA LAIN
Integrasi pelayanan kesehatan pada Puskesmas dengan Fasyankes lain khususnya FKTP lain diselenggarakan melalui model Integrated Quality of Care (IQ-Care). Model IQ-Care adalah pelayanan kesehatan yang merespon kebutuhan individu masyarakat melalui penyediaan layanan yang komprehensif mencakup promosi kesehatan, pencegahan penyakit, diagnosis, pengobatan, penatalaksanaan penyakit, rehabilitasi, dan perawatan paliatif.
Integrasi pelayanan kesehatan model IQ-Care diselenggarakan secara kolaboratif dan inovatif oleh penyedia layanan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama wilayah kerja puskesmas yang dihimpun dalam komitmen penyelenggaraan integrasi pelayanan kesehatan di puskesmas dengan fasyankes lain. Komitmen penyelenggaraan dituangkan dalam suatu dokumen komitmen atas fasilitasi dan koordinasi dinas kesehatan kabupaten/kota.
Dalam implementasi model IQ-Care perlu dipersiapkan komponen-komponen yang mendukung, antara lain meliputi ketersediaan faktor pendukung, pelaksanaan proses integrasi dan output yang sesuai dengan target/tujuan pembangunan kesehatan. Ketersediaan faktor pendukung sebagai fondasi sangat diperlukan yaitu kesamaan visi, misi, dan komitmen dari pemangku kepentingan; integrasi data dan informasi untuk pengambilan keputusan; serta integrasi sistem kesehatan yang berperan penting dalam menjamin penyelenggaraan integrasi berkalan dengan baik
Penyelenggaraan
integrasi pelayanan kesehatan dengan fasyankes lain ditujukan untuk mendukung
pencapaian program prioritas nasional dan prioritas daerah termasuk pemenuhan
standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan kabupaten/kota, agar dapat
berjalan dengan efektif, efisien, bermutu, dan berkesinambungan dengan
memperhatikan keselamatan pasien.
Mekanisme
penyelenggaraan integrasi pelayanan kesehatan di FKTP dilaksanakan melalui 5
tahapan:
1.Pembentukan
jejaring fungsional;
a.Pembentukan jejaring
difasilitasi oleh pemerintah daerah melalui dinas kesehatan kabupaten/kota,
atau dapat didelegasikan kepada puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dan
sebagai pembina FKTP di wilayah kerjanya. Jejaring bersifat fungsional yang berkerja
sama dalam rangka optimalisasi fungsi perlayanan kesehatan dari masing-masing
FKTP dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan prioritas di suatu wilayah.
b.Pembentukan jejaring
tersebut dituangkan dalam suatu komitmen bersama dalam bentuk nota
kesepahaman/memorandum of understanding (MoU), dan/atau perjanjian kerja sama
antara dinas kesehatan dengan FKTP terkait, atau penetapan jejaring melalui
surat keputusan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
2.Identifikasi
permasalahan prioritas;
a.Dinas kesehatan,
puskesmas bersama dengan jejaring FKTP yang sudah dibentuk mengidentifikasi
masalah kesehatan prioritas yang terdapat di wilayah kerja puskesmas.
b.Identifikasi masalah
kesehatan dilakukan berdasarkan ketersediaan data kesehatan masyarakat, program
prioritas yang ada di kabupaten/ kota, antara lain terkait pelayanan esensial,
penanggulangan penyakit, promosi kesehatan/KlE dalam rangka pencegahan dan
pengendalian penyakit menular dan tidak menular, penanggulangan wabah/atau
kejadian luar biasa (KLB), program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
(PIS-PK), visi misi pimpinan daerah, dan SPM bidang kesehatan kabupaten/kota.
3.Rencana
Tindak Lanjut Terhadap Hasil Identitas Permasalahan Prioritas;
a.Melakukan menyusun
care pathway untuk masalah prioritas tersebut mulai dari promotif, preventif,
kuratif, rehabilitatif, sampai dengan paliatif. Penyusunan care pathway
dilalukan dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kemampuan fasilitas
pelayanan kesehatan.
b.Care pathway dimulai
dari sebelum masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan, saat masyarakat di
fasilitas pelayanan kesehatan sampai masyarakat kembali ke rumah. Care pathway
dapat dikembangkan sesuai dengan pedoman nasional praktik kedokteran (PNPK) dan
panduan praktek klinis (PPK) di FKTP atau merujuk pada referensi lain.
4.Implementasi
Rencana Tindak Lanjut;
lmplementasi Rencana
Tindak Lanjut dimulai dengan integrasi profesional dimana masing-masing FKTP
dapat membentuk tim multidisiplin sesuai dengan care pathway yang sudah dibuat.
Tim multidisiplin ini bekerja secara bersama-sama baik internal maupun antar
FKTP yang tergabung dalam jejaring dengan pembagian tugas dan tanggung jawab
yang jelas.
5.Monitoring
dan evaluasi
a.Monitoring dilakukan
secara kolektif setiap bulan oleh tim yang dibentuk dinas kesehatan, pada
setiap tahapan tata laksana pelayanan kesehatan yang tertulis dalam care
pathway. Hasil dari monitoring digunakan untuk menyusun rencana tindak lanjut
dan disampaikan kepada semua jejaring untuk mendapatkan tanggapan dan masukan
dalam upaya perbaikan.
b.Evaluasi dilakukan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kota bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
manfaat atau dampak implementasi integrasi pelayanan kesehatan terhadap
pelayanan yang diterima oleh pasien, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam
memberikan layanan dan dampak bagi penyedia layanan kesehatan termasuk dalam
mendukung pencapaian target-target kinerja, target prioritas daerah dan
nasional. Evaluasi dilaksanakan secara rutin setiap enam
(6) bulan atau dua
belas (12) bulan. Hasil evaluasi dapat digunakan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota untuk meninjau kembali seluruh proses integrasi dan dapat
menjadi dasar atau pertimbangan untuk keberlanjutan kerjasama terkait jejaring.
Puskemas sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota dan penyelenggara upaya kesehatan tingkat pertama bertanggung jawab mewujudkan wilayah kerja puskesmas yang sehat. Implementasi sistem jejaring pelayanan kesehatan primer akan menempatkan puskesmas dalam posisi yang strategis sebagai koordinator dari jejaring FKTP di wilayah kerjanya. Setelah adanya fasilitasi dan penguatan pembentukan jejaring oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas sebagai pembina kemudian berintegrasi dan bekerja sama dengan FKTP dalam jejaring untuk melaksanakan program prioritas.
Atas fasilitasi dinas kesehatan, puskesmas bersama dengan FKTP jejaringnya berdasarkan data kesehatan yang telah terkumpul menetapkan program prioritas atau permasalahan kesehatan yang perlu menjadi fokus utama di wilayah kerja jejaring tersebut, serta memastikan pelayanan kesehatan terkait fokus utama dapat terlaksana sesuai standar yang berlaku. Puskesmas bersama jejaringnya menyusun rencana tindak lanjut terkait fokus utama yang diprioritaskan, dengan Menyusun suatu care pathway terintegrasi antar FKTP disertai dengan pembagian tugas pada masing-masing FKTP jejaring.
Puskemas dengan FKTP
jejaring kemudian bersama-sama melakukan implementasi rencana tindak lanjut
yang telah disepakati terkait fokus utama yang diprioritaskan. Puskesmas
kemudian melakukan data dari hasil implementasi care pathway yang kemudian akan
dimonitor dan dievaluasi secara berkala oleh dinas kesehatan kabupaten/kota.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tersebut dinas kesehatan perlu
melakukan pembinaan, memberikan dukungan dan melakukan perubahan pada rencana
tindak lanjut yang dilaksanakan puskesmas dan jejaring demi tercapainya
penyelesaian program prioritas ataupun permasalahan kesehatan di wilayahnya.
No comments:
Post a Comment