SOP Dermatofitosis Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Dermatofitosis
Kata Kunci Turunan: SOP kurap, SOP tinea corporis, tata laksana dermatofitosis, infeksi jamur kulit, SOP penyakit kulit jamur, pengobatan dermatofitosis, tinea cruris, tinea pedis, pelayanan dermatologi primer.
SOP DERMATOFITOSIS
1. Pengertian
Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial pada jaringan yang mengandung keratin seperti kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh kelompok jamur dermatofita, terutama genus Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton.
Penyakit ini dikenal sebagai tinea dan diklasifikasikan berdasarkan lokasi infeksi, seperti tinea corporis, tinea cruris, tinea pedis, tinea capitis, dan tinea unguium.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang tepat, aman, dan efektif dalam diagnosis serta tata laksana dermatofitosis.
Tujuan Khusus
- Menegakkan diagnosis secara dini.
- Menghilangkan infeksi jamur.
- Mengurangi gejala dan ketidaknyamanan pasien.
- Mencegah penularan dan kekambuhan.
- Menentukan kebutuhan rujukan secara tepat.
3. Kebijakan
Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Penyakit Kulit dan Kelamin.
- Pedoman praktik klinis dermatologi.
- Standar pelayanan kesehatan primer.
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Perawat
- Petugas Laboratorium
- Petugas Rekam Medis
5. Alat dan Bahan
Alat
- Sarung tangan
- Lampu pemeriksaan
- Kaca objek dan kaca penutup
- Mikroskop
- Pinset
Bahan
- Larutan KOH 10–20%
- Alkohol 70%
- Obat antijamur topikal
- Obat antijamur sistemik sesuai indikasi
6. Prosedur Pelaksanaan
A. Anamnesis
Menanyakan:
- Keluhan gatal.
- Lama keluhan.
- Lokasi lesi.
- Riwayat kontak dengan penderita serupa.
- Riwayat penggunaan pakaian atau handuk bersama.
- Riwayat berkeringat berlebihan.
- Riwayat penyakit penyerta.
- Riwayat pengobatan sebelumnya.
B. Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan:
Kulit
Mencari tanda khas:
- Plak berbentuk bulat atau oval.
- Batas lesi tegas.
- Tepi lebih aktif dibanding bagian tengah.
- Eritema.
- Skuama.
- Gatal.
Rambut
- Rambut patah.
- Area alopecia.
Kuku
- Penebalan kuku.
- Perubahan warna kuku.
- Kerapuhan kuku.
7. Klasifikasi Klinis
Tinea Corporis
Infeksi pada kulit tubuh.
Tinea Cruris
Infeksi pada lipat paha.
Tinea Pedis
Infeksi pada kaki.
Tinea Capitis
Infeksi kulit kepala dan rambut.
Tinea Unguium (Onikomikosis)
Infeksi pada kuku.
Tinea Manuum
Infeksi pada tangan.
8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH
Mengambil kerokan kulit, rambut, atau kuku.
Hasil positif:
- Ditemukan hifa bersepta dan bercabang.
Kultur Jamur
Dilakukan bila:
- Diagnosis meragukan.
- Kasus kronis.
- Tidak respons terhadap terapi.
9. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis
- Gatal kronis.
- Riwayat faktor risiko.
Pemeriksaan Fisik
- Lesi khas dermatofitosis.
Pemeriksaan Penunjang
- Hasil KOH positif.
10. Tata Laksana
A. Terapi Non Farmakologis
Memberikan edukasi:
- Menjaga kebersihan kulit.
- Menjaga area tubuh tetap kering.
- Mengganti pakaian setiap hari.
- Tidak berbagi handuk atau pakaian.
- Menghindari penggunaan pakaian ketat.
B. Terapi Farmakologis
Antijamur Topikal
Untuk kasus ringan hingga sedang dapat diberikan sesuai indikasi klinis:
- Klotrimazol.
- Mikonazol.
- Ketokonazol.
- Terbinafin topikal.
Penggunaan umumnya diteruskan beberapa minggu sesuai respons klinis.
Antijamur Sistemik
Dipertimbangkan pada:
- Tinea capitis.
- Onikomikosis.
- Lesi luas.
- Kasus berulang.
- Gagal terapi topikal.
Pemilihan obat dan lama terapi harus berdasarkan evaluasi dokter.
11. Monitoring dan Evaluasi
Dilakukan pemantauan terhadap:
- Perbaikan gejala gatal.
- Perubahan ukuran lesi.
- Hilangnya skuama.
- Kepatuhan pengobatan.
- Efek samping obat.
12. Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin apabila:
- Diagnosis tidak jelas.
- Tidak membaik setelah terapi adekuat.
- Dermatofitosis luas.
- Tinea capitis berat.
- Onikomikosis berat.
- Pasien imunokompromais.
- Terjadi komplikasi.
13. Komplikasi
- Infeksi bakteri sekunder.
- Penyebaran infeksi.
- Perubahan pigmentasi kulit.
- Kerontokan rambut permanen pada kasus tertentu.
- Kekambuhan berulang.
14. Dokumentasi
Petugas wajib mencatat:
- Identitas pasien.
- Keluhan utama.
- Lokasi lesi.
- Hasil pemeriksaan fisik.
- Hasil pemeriksaan KOH.
- Diagnosis.
- Terapi yang diberikan.
- Edukasi yang diberikan.
- Jadwal kontrol.
Indikator Mutu Pelayanan
- Ketepatan diagnosis dermatofitosis ≥ 90%.
- Kepatuhan pemeriksaan KOH sesuai indikasi ≥ 90%.
- Kelengkapan rekam medis ≥ 100%.
- Keberhasilan terapi pada kontrol pertama ≥ 80%.
- Ketepatan rujukan kasus komplikasi ≥ 100%.
Referensi
- World Health Organization Pedoman pengendalian penyakit kulit menular.
- American Academy of Dermatology Pedoman diagnosis dan tata laksana dermatofitosis.
- International Society of Dermatology Pedoman infeksi jamur superfisial.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pedoman pelayanan penyakit kulit di fasilitas kesehatan primer.
Meta Description SEO:
SOP Dermatofitosis terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, klasifikasi tinea, pemeriksaan KOH, diagnosis, tata laksana, edukasi, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai standar pelayanan kesehatan.
